Apa pandangan Islam dalam hubungan diplomasi dengan negara kafir?
Soal: Apa pandangan Islam dalam hubungan diplomasi dengan negara kafir?
Jawab: Islam adalah agama fitrah dan fitrah setiap manusia senantiasa menuntut kemandirian. Dengan demikian, hubungan dengan negara kafir dengan tetap menjaga kemandirian dan kebebasan tidak ada larangan.
Seorang anak kecil mengangkat sebuah sendok dari meja hidangan. Sendok itu penuh dengan makanan. Ia tidak membawa sendok itu ke arah mulutnya untuk memakannya, tapi menyiramkannya ke bajunya. Ibunya yang melihat apa yang dilakukan oleh anaknya langsung menarik sendok yang berada ditangan anaknya. Ia tidak memberikan kebebasan kepada anaknya untuk makan sendiri tapi ia menyuap anaknya. Anaknya kemudian dengan perasaan tidak senang berkata kepada ibunya: “Bila saya bisa melakukan pekerjaan secara mandiri, sekalipun dengan mengotori pakaian yang kupakai adalah lebih baik ketimbang senantiasa bergantung kepadamu ibu”.
Kaum muslimin pada dekade awal munculnya Islam, mereka beribadah dengan menghadap ke Baitul Muqaddas (mungkin karena banyaknya arca di dalam Ka’bah). Setelah kaum muslimin melakukan hijrah ke Madinah, mereka diolok-olok oleh orang Yahudi Madinah bahwa kaum muslimin beribadah menghadap kiblat mereka. Artinya kalian tidak punya kemandirian.
Nabi Muhammad saw ketika mendengar olok-olokan ini menjadi sedih. Beliau menengadahkan wajahnya ke langit seakan-akan menanti wahyu. Hal itu dilakukannya sampai turun perintah untuk melakukan ibadah menghadap Ka’bah dan dengan demikian mereka memiliki kiblat sendiri. Akhirnya, kaum Yahudi tidak lagi mengolok-olok mereka: “Agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka” (Baqarah: 150).
Begitu juga dalam Islam disebutkan bahwa menyerupai orang-orang kafir hukumnya adalah haram. Karena itu menunjukkan rasa inferior dan rendah diri bagi kaum muslimin dan di sisi lain menunjukkan penghormatan kepada orang-orang kafir.[infosyiah]
Apa sikap kita bila mendapat musibah?
Soal: Apa sikap kita bila mendapat musibah?
Jawab: Bila kita dihidangkan makanan, sangat mungkin di sana ada berbagai macam makanan yang disuguhkan. Ada sambal begitu pula ada salad, sebagaimana mungkin ada kue-kue dan selai. Anak-anak kecil sangat menyukai kue-kue yang rasanya manis. Sambal dan salad buat mereka tidak punya daya tarik sama sekali. Namun, orang dewasa melihat keduanya sebagai hal yang diperlukan dalam sebuah hidangan lengkap.
Musibah memiliki berkah, antara lain:
1. Manusia semakin mendekatkan dirinya dengan Allah.
2. Potensi manusia menjadi tersalurkan dan semakin teliti dalam bersikap.
3. Musibah menjadi penghapus dosa-dosa yang dilakukan oleh manusia.
4. Nikmat yang diberikan Allah menjadi lebih disyukuri.
Manusia dapat dikelompokkan dalam tiga bagian dalam menyikapi sebuah kejadian; seorang anak kecil serentak merasa tersiksa ketika mencicipi sambal. Seorang remaja lebih dapat menahan rasa pedas yang menyengat. Sementara orang tua yang membeli cabe untuk dibuat sambal dan kemudian dimakan.
Al-Quran menyebutkan: “Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah” (Ma’arij: 20). Sebagian lainnya dapat menahan dirinya dan menunjukkan kesabarannya: “Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Baqarah: 155-156). Sebagian orang malah mencari kesulitan: “Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu” (Ahzab: 23).
Beberapa orang sahabat mendekati Nabi karena mereka akan diutus untuk berjihad di medan perang. Nabi berkata: “Saya tidak memiliki pedang dan kuda sebagai alat bantu dan senjata kalian”. Mendengar itu para sahabat menangis karena ucapan itu berarti mereka tidak akan diberangkatkan ke medan perang.
Kebijakan, kesabaran dan pengaturan yang baik dan benar dengan meminta bantuan Allah, hal-hal yang sulit dan kejadian-kejadian pahit dapat dimanfaatkan sebaik mungkin. Sebagaimana jeruk yang kecut dapat diubah menjadi sebuah sirup yang menarik.
Benar, bila seseorang ahli masak, ia dapat membuat selai dari kulit jeruk. Sudah banyak yang memanfaatkan sampah menjadi benda-benda bernilai jual.
Sayyidah Zainab dalam pidatonya di istana Yazid dengan indahnya mampu membalikkan keadaan. Ia menjadikan pijakannya dalam melakukan perlawanan dengan penguasa zalim dengan melukiskan sikap pasukan Yazid yang menawan mereka dan digiring dari Kufah hinnga Syam (Syiria sekarang). Ucapan-ucapannya mampu membalikkan keadaan membuat keadaan berpihak padanya.
Hal yang sama dilakukan oleh Imam Sajjad as yang berpidato di salah satu masjid di Syam. Dalam pidatonya ia memongkar kebusukan penguasa zalim dalam kedok khalifah Allah. Yazid berupaya untuk membungkam pidato Imam Sajjad as. Ia memerintahkan tukang azan untuk mengumandangkan azan dengan suara tinggi. Diharapkan dengan perbuatan itu, khutbah Imam Sajjad as terputus. Namun, lagi-lagi, Imam Sajjad as memanfaatkan kesempatan ini dan menafsirkan azan yang tengah dikumandangkan yang membuat keadaan kembali berpihak padanya. Terutama ketika sampai pada kalimat “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah”, ia berkata: “Wahai Yazid! Muhammad yang disebutkan dalam azan ini adalah kakekku atau kakekmu? Bukankah tawanan yang engkau giring dari Kufah sampai ke Syam ini adalah keturunan Muhammad?
Ketika Imam Kazhim as dimasukkan ke dalam penjara yang diperuntukkan buat satu orang ia berkata: “Hmm.. Tempat yang sangat bagus untuk melakukan ibadah kepada Allah”.
Banyak ulama Islam yang menulis buku ketika mereka dipenjara atau diasingkan![infosyiah]
-
Terkini
-
Tautan
-
Arsip
- Mei 2007 (2)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS